Selasa, 08 Oktober 2013

Kontroversi Sensor Pornografi di Inggris

Minggu lalu, perdana menteri Inggris David Cameron mengumumkan diterapkannya filter pornografi secara default untuk pengakses internet di negara tersebut.

Agar bisa bebas mengakses dunia maya tanpa terbentur batasan sensor, pengguna harus memberi tahu sendiri soal itu pada penyedia layanan internet masing-masing.

Langkah ini rupanya mendapat tentangan dari kalangan penyedia layanan internet (ISP) di Inggris. Setidaknya satu ISP, yaitu Andrews & Arnold, telah menyatakan diri tak bakal mengikuti kebijakan anti-pornografi tersebut.

"Maaf, tapi untuk mengakses internet yang disensor, Anda harus memilih ISP lain atau pindah ke Korea Utara," demikian bunyi pernyataan Andrews & Arnold yang disampaikan minggu lalu, seperti dikutip oleh BGR.

Menurut ISP ini, menyensor dan membatasi akses pengguna internet adalah tugas si pengguna sendiri, bukan sesuatu yang harus dibebankan pada pihak ISP.

Khawatir diintip China

Kekhawatiran lain sehubungan dengan diterapkannya kebijakan sensor internet ini berkaitan dengan alat yang dipakai untuk keperluan tersebut.

TalkTalk, perusahaan penyedia perangkat filter pornografi yang dipakai di kebijakan sensor Inggris, dimiliki oleh raksasa telekomunikasi China Huawei yang Mei lalu sempat dikabarkan menjalankan aktivitas mata-mata untuk Pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut.

Huawei menampik kekhawatiran ini dengan mengatakan bahwa hal itu tak beralasan dan hanya muncul berdasarkan prasangka. Eksekutif Huawei Chen Li Fang menambahkan bahwa perusahaan itu tak boleh diperlakukan tidak adil hanya karena berasal dari China.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar