Minggu lalu, perdana menteri Inggris David Cameron mengumumkan
diterapkannya filter pornografi secara default untuk pengakses internet
di negara tersebut.
Agar bisa bebas mengakses dunia maya tanpa
terbentur batasan sensor, pengguna harus memberi tahu sendiri soal itu
pada penyedia layanan internet masing-masing.
Langkah ini rupanya
mendapat tentangan dari kalangan penyedia layanan internet (ISP) di
Inggris. Setidaknya satu ISP, yaitu Andrews & Arnold, telah
menyatakan diri tak bakal mengikuti kebijakan anti-pornografi tersebut.
"Maaf,
tapi untuk mengakses internet yang disensor, Anda harus memilih ISP
lain atau pindah ke Korea Utara," demikian bunyi pernyataan Andrews
& Arnold yang disampaikan minggu lalu, seperti dikutip oleh BGR.
Menurut
ISP ini, menyensor dan membatasi akses pengguna internet adalah tugas
si pengguna sendiri, bukan sesuatu yang harus dibebankan pada pihak ISP.
Khawatir diintip China
Kekhawatiran
lain sehubungan dengan diterapkannya kebijakan sensor internet ini
berkaitan dengan alat yang dipakai untuk keperluan tersebut.
TalkTalk,
perusahaan penyedia perangkat filter pornografi yang dipakai di
kebijakan sensor Inggris, dimiliki oleh raksasa telekomunikasi China
Huawei yang Mei lalu sempat dikabarkan menjalankan aktivitas mata-mata
untuk Pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut.
Huawei menampik
kekhawatiran ini dengan mengatakan bahwa hal itu tak beralasan dan hanya
muncul berdasarkan prasangka. Eksekutif Huawei Chen Li Fang menambahkan
bahwa perusahaan itu tak boleh diperlakukan tidak adil hanya karena
berasal dari China.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar